Empat Kebenaran Mulia dalam Agama Buddha

Empat Kebenaran Mulia dalam Agama Buddha

Blog Buddhis. Empat Kebenaran Mulia adalah ajaran Buddha yang pertama kali disampaikan kepada lima petapa. Ajaran ini disampaikan dalam khotbah-Nya yang disebut dengan Dhammaccakkappavattana Sutta, bertempat di Taman Rusa Isipatana kota Benares.

Empat kebenaran ini merupakan ajaran pokok Buddha. Kebenaran-kebenaran yang dijelaskan Buddha dalam Empat Kebenaran Mulia ini adalah kebenaran yang terjadi dan dialami oleh setiap orang, dan bahkan setiap makhluk hidup. Oleh karena itu, dengan memahami empat kebenaran ini diharapkan kamu dapat memahami dan menjalani hidup dengan baik. Tidak berprilaku buruk yang bertentangan dengan Dhamma, ajaran Buddha.

Apa saja Empat Kebenaran Mulia? Buddha menjelaskan tentang Empat Kenyataan Mulia secara urut sebagai berikut:

1. Dukkha

Kebenaran yang pertama dalam kehidupan ini adalah semua makhluk termasuk manusia pasti mengalami dukkha. Dukkha artinya ketidakpuasan. Setiap orang tidak bisa lepas dari sakit, sedih, kecewa, tua dan mati. Sakit, sedih dan kecewa umumnya disebut sebagai penderitaan. Semua itu membuat orang tidak senang dan tidak puas alias menderita. Apakah ada di antara kamu yang tidak pernah sedih? Tentu tidak, bukan? Ya, hal itu menandakan bahwa dukkha adalah nyata ada bersama kita. Oleh karena itu, ketika sakit datang, kita harus belajar menerima dan tidak bersedih berlebihan.

Terdapat banyak jenis dukkha yang dialami manusia. Namun, secara umum dukkha dikelompokkan menjadi dua, yaitu dukkha fisik dan dukkha batin. Dukkha fisik misalnya sakit gigi, sakit kulit, luka, keseleo, terkilir, sakit perut dan penyakit lainnya. Dukkha batin misalnya kecewa, merasa kesal, merasa kesepian, minder, tidak percaya diri, sedih dan masih banyak lagi.

2. Sebab Dukkha

Kebenaran kedua dalam hidup ini adalah penyebab dukkha. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa sebab, demikian juga penderitaan. Contoh-contoh penderitaan yang dijelaskan pada nomor satu di atas juga dapat diketahui sebabnya. Apakah kamu bisa menemukan penyebabnya? Ya, misalnya sakit gigi karena giginya bolong. Gigi bolong karena malas gosok gigi. Sakit kulit bisa karena malas mandi atau mandinya tidak bersih, dan seterusnya. Lalu, bagaimana halnya dukkha batin? Apakah dapat ditemukan sebabnya? Tentu, bisa. Untuk itu, simak cerita singkat berikut ini.

“Pada setiap perayaan tahun baru, Adi biasanya mendapat “Ang Pau” atau hadiah uang dari kedua orang tuanya. Uang hadiah tersebut biasanya berjumlah banyak. Setahun kemudian, hari yang ditunggu pun datang, yaitu perayaan tahun baru. Adi pun mempunyai keinginan berupa harapan mendapatkan uang yang banyak dari kedua orang tuanya.

Tanpa sepengetahuan Adi, ternyata usaha orang tuanya sedang mengalami kesulitan sehingga tidak mungkin memberikan hadiah tahun baru seperti biasanya. Orang tua Adi hanya bisa memberikan hadiah sedikit. Tentu hal ini membuat Adi tidak puas sehingga kecewa dan sedih. Sebaliknya berbeda dengan Rudi yang tidak pernah berharap mendapatkan ini dan itu dari orang tuanya, sehingga Rudi pun tidak pernah merasa kecewa dan sedih ketika orang tuanya tidak mampu memberikan hadiah yang besar”.

Berdasarkan cerita di atas, sesungguhnya Adi sedih dan kecewa bukan karena besar kecilnya hadiah uang, tetapi karena Adi mempunyai keinginan mendapatkan hadiah yang besar dan keinginan itu tidak terpenuhi. Jika Adi tidak berharap, dan ayahnya hanya mampu memberikan hadiah yang kecil, Adi tidak akan sedih dan kecewa.

3. Berakhirnya Dukkha

Kebenaran ketiga dalam kehidupan ini adalah adanya kebahagiaan. Kebahagiaan terjadi ketika dukkha berakhir. Berakhirnya dukkha terjadi ketika munculnya kebahagiaan. Buddha mengajarkan bahwa setiap orang bisa bahagia. Apakah kamu juga ingin hidup bahagia? Ya, tentu kita semua menginginkan hidup yang bahagia.

Akan tetapi, apakah bahagia itu? Secara umum, orang merasa bahagia Ketika keinginannya terpenuhi. Terpenuhinya keinginan memang menyenangkan, misalnya merayakan ulang tahun bersama orang yang dicintai. Tetapi hati-hati karena jika keinginannya berlebihan akan menyebabkan penderitaan.

Terhentinya dukkha apabila tercapai Nibbāna. Kebahagiaan tertinggi dalam agama Buddha dinamakan Nibbāna. Oleh karena itu, Nibbāna menjadi tujuan terakhir umat Buddha. Sebelum meraih kebahagiaan tertinggi, kita juga bisa meraih kebahagiaan yang lain. Dalam kitab suci Anguttara Nikāya, Buddha menjelaskan ada empat kebahagiaan yang bisa diraih, yaitu bahagia karena memiliki kekayaan, bisa menikmati kekayaannya, tidak memiliki hutang, dan memiliki perilaku yang baik.

4. Cara Mengakhiri Dukkha dan Meraih Kebahagiaan

Kebenaran keempat adalah ada cara untuk mengakiri dukkha. Cara untuk mengakhiri dukkha dan meraih kebahagiaan (Nibbāna) ada tiga langkah. Tiga langkah tersebut adalah: pertama harus bereprilaku baik (Sila); kedua harus rajin meditasi (Samadhi) dan ketiga harus belajar bijaksana (Panna). Berprilaku baik (Sila) artinya dapat berkata benar, berbuat benar, dan memiliki mata pencaharian yang benar. Bermeditasi (Samadhi) artinya selalu sadar dan fokus pada kebaikan yang dilakukan. Bijaksana (Panna) artinya dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, tidak tergoda oleh hal-hal yang tidak benar.

Perilaku yang baik sesungguhnya adalah sumber kebahagiaan yang paling penting. Berperilaku yang baik memungkinkan tiga jenis kebahagiaan lainnya dapat tercapai. Memiliki uang dan harta, tetapi jika perilakunya buruk, uang dan harta akan sulit dicapai. Oleh karena itu bekerja di mana pun dibutuhkan orang-orang yang baik yang bisa dipercaya. Demikian juga orang yang perilakunya baik akan dipercaya jika dia memerlukan hutang untuk mengatasi kesulitannya. Jadi, berhutang pun harus didukung oleh perilaku yang baik.

Rajin belajar adalah contoh cara hidup yang benar bagi seorang pelajar. Dengan rajin belajar, kesulitan bisa diatasi. Jika rajin belajar, setiap orang bisa berprestasi. Ramah tamah dan tidak sombong adalah cara hidup benar agar memiliki banyak teman. Menjaga kebersihan badan serta pakaian adalah cara hidup benar agar memiliki kesehatan yang baik dan lain sebagainya. Kalian dapat menemukannya sendiri.

Posting Komentar untuk "Empat Kebenaran Mulia dalam Agama Buddha"